Meniti Jalan Keselamatan dengan Berpegang Teguh pada Al-Qur’an, Sunnah, dan Menetapi Jamaah

Di tengah arus globalisasi dan disrupsi informasi yang begitu deras, umat Islam sering kali dihadapkan pada dilema pemikiran, pergeseran nilai, dan perpecahan internal. Dalam kondisi yang penuh dengan fitnah (ujian) ini, Rasulullah ﷺ telah meninggalkan warisan yang paling berharga sebagai kompas penunjuk jalan. Kompas tersebut adalah Al-Qur’an dan Sunnah, yang dijalankan dalam bingkai Al-Jamaah.

Al Qur 'An Hadits Jamaah
Al Qur ‘An Hadits Jamaah

Islam adalah agama yang sempurna, diturunkan Allah ﷻ sebagai pedoman hidup manusia agar selamat dunia dan akhirat. Kesempurnaan Islam terletak pada dua sumber utama: Al-Qur’an dan As-Sunnah. Keduanya adalah cahaya yang menuntun umat agar tidak tersesat.

وَاَنَّ هٰذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُۚ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهٖۗ ذٰلِكُمْ وَصّٰىكُمْ بِهٖ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

Sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) sehingga mencerai-beraikanmu dari jalan-Nya. Demikian itu Dia perintahkan kepadamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-An’am ayat 153)

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ مَالِك أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya: Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.”
(HR. Malik dalam Muwaththa’)

Selain itu, Islam juga menekankan pentingnya menetapi jamaah . Hal ini menjadi kunci kokohnya umat dan terhindar dari fitnah. Artikel ini akan mengupas tuntas urgensi mengacu pada sumber primer Islam, bagaimana mengimplementasikannya dalam kehidupan modern, serta mengapa “menetapi jamaah” menjadi kunci stabilitas iman dan sosial bagi seorang Muslim.

I. Makna Berpegang Teguh dengan Al-Qur’an

  1. Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup
    Al-Qur’an bukan sekadar kitab bacaan, melainkan Manhajul Hayah (pedoman hidup).

    ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَۛ فِيْهِۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ

    Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, (QS . Al-Baqarah ayat 2)

    Karakteristik Al-Qur’an sebagai Pedoman Kebenaran Mutlak, tidak ada keraguan di dalamnya (Laa rayba fiih).

  2. Al-Qur’an sebagai obat hati, Menjadi penyembuh bagi penyakit hati (nifaq, syirik) dan penyakit sosial.

    وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ

    “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”  (QS. Al-Isra’ ayat 82)

  3. Al-Qur’an sebagai pembeda (furqan)
    Ia membedakan antara kebenaran dan kebatilan, sehingga seorang muslim tidak bingung dalam menghadapi berbagai ideologi dan pemikiran.

Konsekuensi Berpegang Teguh pada Al-Qur’an

Berpegang teguh berarti menjadikannya standar moral. Jika Al-Qur’an mengharamkan riba, maka seorang Muslim harus berupaya menghindarinya meski sistem dunia mendukungnya. Jika Al-Qur’an memerintahkan keadilan, maka ia harus adil bahkan kepada orang yang membencinya.

II. Makna Berpegang Teguh dengan Sunnah

Al-Qur’an memberikan prinsip-prinsip global, sedangkan As-Sunnah (perkataan, perbuatan, dan ketetapan Nabi ﷺ) memberikan detail teknis. Tanpa Sunnah, kita tidak akan tahu bagaimana cara shalat lima waktu atau detail pelaksanaan haji.

Sunnah berfungsi sebagai:

    • Bayan At-Taqrir: Menguatkan hukum yang ada di Al-Qur’an.

    • Bayan At-Tafsir: Menjelaskan ayat-ayat yang bersifat umum.

    • Bayan At-Tasyri’: Menetapkan hukum baru yang tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an (namun tetap selaras dengan prinsip wahyu).

Tantangan Menghidupkan Sunnah di Akhir Zaman

Di era digital, sering muncul gerakan “Ingkar Sunnah” atau pemikiran yang menganggap Sunnah sudah tidak relevan. Padahal, Sunnah adalah manifestasi praktis dari Islam. Mengikuti Sunnah bukan sekadar masalah teknis (seperti makan dengan tangan kanan), tetapi juga masalah mentalitas—yaitu meneladani akhlak Rasulullah yang merupakan “Al-Qur’an berjalan”. Menolak Sunnah berarti menolak penjelasan Rasulullah ﷺ, padahal beliau adalah utusan Allah. Hal ini bisa menjerumuskan pada kesesatan.

III. Urgensi Menetapi Jamaah

Setelah memiliki sumber (Al-Qur’an dan Sunnah), seorang Muslim memerlukan ekosistem untuk menjaga keimanannya. Ekosistem inilah yang disebut dengan Al-Jamaah.

  • Makna Jamaah
    Jamaah adalah kaum muslimin yang bersatu di atas kebenaran, mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah, serta dipimpin oleh seorang imam. Menetapi jamaah berarti tidak memisahkan diri, tidak membuat kelompok sesat, dan tidak menentang terhadap pemimpin selama ia tidak memerintahkan maksiat.   مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِى
  • Dalil tentang pentingnya menetapi jamaah

    وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ

    Dan berpegangtegulah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai”. (Qs. Al-Imran ayat 103)

     

    عَلَيۡكُمۡ بِالۡجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمۡ وَالۡفُرۡقَةَ فَإِنَّ الشَّيۡطَانَ مَعَ الۡوَاحِدِ وَهُوَ مِنَ الاِثۡنَيۡنِ أَبۡعَدُ، مَنۡ أَرَادَ بُحۡبُوحَةَ الۡجَنَّةِ فَلۡيَلۡزَمِ الۡجَمَاعَةَ

    “Hendaklah kalian berpegang teguh pada jamaah dan jauhilah perpecahan. Sesungguhnya setan bersama orang yang sendirian, dan ia lebih jauh dari dua orang. Siapa saja yang menghendaki masuk syurga hendaklah menetapi Jamaah” (HR. Tirmidzi)

     

    (وَإنّ هذِه الِملّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِيْنَ، ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الجَنّةِ وَهِيَ الجَمَاعَة (رَواه أبُو دَاوُد

    “Dan sesungguhnya umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan, 72 di antaranya di dalam neraka, dan hanya satu di dalam surga yaitu Al-Jama’ah” (HR. Abu Dawud).

  • Bahaya Tidak Menetapi Jamaah

    وَمَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ فَمِيتَةً جَاهِلِيَّةً

    “Barangsiapa memisahkan diri dari jamaah sejengkal saja, lalu ia mati, maka matinya seperti mati jahiliyah”.

    يَدُ اللهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ، وَمَنْ شَذَّ، شَذَّ إلى النَّارِ

    “Tangan (pertolongan) Allah bersama jamaah. Siapa saja yang memisahkan diri/keluar (dari jamaah), maka berarti ia telah memisahkan diri/keluar untuk menuju neraka.” (HR. Tirmidzi)

    الْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ ، وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ

    “Berjama’ah itu rahmat (syurga) dan berfirqah-firqah itu adzab (neraka).” (HR Ahmad).

Istiqamah Hingga Akhir

Berpegang teguh pada Al-Qur’an, Sunnah, dan menetapi jamaah adalah satu paket keselamatan. Tanpa salah satunya, perjalanan menuju ridha Allah akan terasa berat dan penuh risiko tersesat. Keistiqamahan dalam memegang prinsip ini memang berat, digambarkan seperti menggenggam bara api. Namun, buah dari kesabaran tersebut adalah ketenangan di dunia dan kemuliaan di akhirat.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *