Syarat Sah, Rukun dan Sunah Khutbah Jum’at

Khutbah Jum’at adalah bagian yang sangat penting dalam ibadah shalat Jum’at. Khutbah Jumat bukanlah sekadar ceramah umum atau pidato biasa. Khutbah merupakan syarat sah penyelenggaraan Sholat Jumat. Tanpa adanya dua khutbah yang memenuhi ketentuan syar’i, maka Sholat Jumat dianggap tidak sah dan harus diganti dengan Sholat Dzuhur. Oleh karena itu, memahami syarat sah, rukun, dan sunnah khutbah Jum’at beserta dalil Al-Qur’an dan hadits merupakan hal yang wajib bagi setiap Muslim, khususnya bagi para khatib.

Khutbah Jum'at
Khutbah Jum’at

Shalat Jum’at adalah ibadah mingguan yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلٰوةِ مِنْ يَّوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ وَذَرُوا الْبَيْعَۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Jumu’ah ayat 9)

Ayat ini menegaskan kewajiban shalat Jum’at, dan khutbah menjadi bagian yang tidak terpisahkan darinya. Rasulullah SAW selalu menyampaikan khutbah sebelum melaksanakan shalat Jum’at, sehingga para ulama sepakat bahwa khutbah adalah syarat sah shalat Jum’at.

Syarat Sah Khutbah Sholat Jum’at

  1. Khutbah dilaksanakan setelah masuk waktu sholat Jumat. Jika khutbah dilakukan sebelum masuk waktu sholat, maka khutbah tersebut tidak sah.
  2. Khutbah dilakukan sebelum sholat, bukan sesudahnya. Jika khutbah dilakukan setelah sholat, maka sholat harus diulang.
  3. Tidak boleh ada jeda yang lama antara khutbah dan sholat. Bahkan wajib dilakukan secara berurutan (bersambung) antara khutbah dan sholat.
  4. Dihadiri oleh jamaah yang dengannya sholat Jumat menjadi sah.
  5. Khutbah disampaikan dengan bahasa Arab, karena khutbah merupakan dzikir yang wajib, maka disyaratkan di dalamnya bahasa arab seperti bacaan taysahud dan takbirotul ihrom (dalam sholat). Dan karena Nabi SAW bersabda: صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي  sholatlah sebagaimana kalian melihat saya sholat. (HR Bukhori) dan Nabi khutbah dengan bahasa arab.
  6. Khutbah disampaikan dengan suara keras. Tidak sah jika khotib berkhutbah secara pelan (tidak terdengar oleh orang lain), karena tujuan khutbah tidak akan tercapai kecuali dengan dikeraskan suaranya.

Rukun-Rukun Khutbah Sholat Jum’at

  1. Memuji Alloh yang Maha Tinggi.

    عَنۡ جَابِرٍ؛ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَخۡطُبُ النَّاسَ: يَحۡمَدُ اللهَ وَيُثۡنِي عَلَيۡهِ بِمَا هُوَ أَهۡلُهُ. ثُمَّ يَقُولُ: (مَنۡ يَهۡدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنۡ يُضۡلِلۡ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَخَيۡرُ الۡحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ)

    Berdasarkan riwayat dari Jabir RA ia berkata: “Rasululloh SAW berkhutbah kepada manusia. Beliau memuji Alloh dan menyanjungNya sebagaimana yang layak bagiNya. Kemudian beliau bersabda: Barang siapa diberi petunjuk oleh Alloh, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya; dan barang siapa disesatkanNya, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Sebaik-baik perkataan adalah Kitab Alloh.”(HR. Muslim).

     

    كُلُّ كَلاَمٍ لاَ يُبْدَأُ فِيهِ بِ لْحَمْدُ لِلَّهِ فَهُوَ أَجْذَمُ

    Dan dari Abu Hurairoh RA, ia berkata: Rasululloh SAW bersabda: “Setiap perkataan (khutbah) yang tidak diawali dengan pujian kepada Alloh, maka perkataan (khutbah) itu terputus (tidak sempurna/kurang barokah).”(HR. Abu Dawud)

  2. Membaca shalawat kepada Rasululloh SAW, karena setiap ibadah yang memerlukan penyebutan (dzikir) kepada Alloh, juga memerlukan penyebutan RasulNya, sebagaimana azan.
  3. Memberikan nasihat, karena Nabi SAW (dalam khutbahnya) memberi nasihat, dan itulah tujuan utama dari khutbah, maka tidak boleh mengabaikannya.
  4. Membaca satu ayat Al-Qur’an,

    Berdasarkan riwayat dari Jabir bin Samurah RA, ia berkata: “Sholat Rasululloh SAW dilakukan secara sedang, dan khutbah beliau juga sedang. Beliau membaca beberapa ayat dari Al-Qur’an dan mengingatkan manusia.” (HR. Abu Dawud).

    Dan karena khutbah merupakan kewajiban dalam sholat Jumat, maka diwajibkan di dalamnya bacaan (Al-Qur’an), sebagaimana dalam sholat.

  5. Berdoa untuk orang-orang beriman, berdasarkan riwayat dari Samuroh bin Jundub RA, bahwa Nabi SAW memohonkan ampunan bagi orang-orang iman laki-laki dan orang-orang iman perempuan, orang-orang Islam laki-laki dan orang-orang Islam perempuan setiap hari Jumat.(HR. al-Bazzar)

 

Sunah-Sunah Dalam Khutbah Jumat

  1. (Disunnahkan) khotib berkhutbah dalam keadaan suci, karena Nabi SAW biasa melaksanakan salat setelah khutbah, dan tidak ada riwayat bahwa beliau memisahkan antara khutbah dan salat dengan bersuci lagi.”
  2. Hendaknya khotib berkhutbah di atas mimbar atau di tempat yang tinggi, karena Nabi SAW berkhutbah di atas mimbarnya, dan karena hal itu membuat lebih jelas dalam menyampaikan (nasihat kepada jamaah).
  3. Hendaknya khotib mengucapkan salam setelah naik mimbar ketika menghadap jamaah,

    أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا صَعِدَ الْمِنْبَرَ سَلَّمَ

    Berdasarkan riwayat dari Jabir bin Abdillah RA, bahwa Nabi SAW apabila naik ke mimbar, beliau mengucapkan salam. (HR Ibnu Majah)

  4. Hendaknya khotib duduk setelah mengucapkan salam kepada jamaah,

    كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ خُطْبَتَيْنِ كَانَ يَجْلِسُ إِذَا صَعِدَ الْمِنْبَرَ حَتَّى يَفْرَغَ أُرَاهُ قَالَ الْمُؤَذِّنُ ثُمَّ يَقُومُ فَيَخْطُبُ ثُمَّ يَجْلِسُ فَلَا يَتَكَلَّمُ ثُمَّ يَقُومُ فَيَخْطُبُ

    Berdasarkan riwayat dari Nafi‘ dari Ibnu Umar RA, ia berkata: “Nabi SAW berkhutbah dengan dua khutbah. Beliau duduk ketika naik ke mimbar hingga muadzin selesai mengumandangkan adzan. Kemudian beliau berdiri dan berkhutbah, lalu duduk dan tidak berbicara, kemudian beliau berdiri lagi dan berkhutbah.”(HR. Abu Dawud)

  5. Hendaknya khotib berkhutbah dalam keadaan berdiri dan duduk di antara dua khutbah,

    قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَخْطُبُ قَائِمًا ثُمَّ يَقْعُدُ ثُمَّ يَقُومُ، كَمَا تَفْعَلُونَ الآنَ

    Berdasarkan riwayat dari Ibnu Umar RA, ia berkata: “Nabi SAW berkhutbah dalam keadaan berdiri, kemudian beliau duduk, lalu berdiri kembali, sebagaimana yang kalian lakukan sekarang.” (HR al-Bukhari)

  6. Hendaknya khotib mengeraskan suaranya dengan lantang,

    كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ، وَعَلَا صَوْتُهُ

    Berdasarkan riwayat dari Jabir bin Abdillah RA, ia berkata: “Rasululloh SAW apabila berkhutbah, kedua mata beliau memerah dan suara beliau meninggi/lantang.” (HR Muslim)

  7. Meringkas (tidak memanjangkan) khutbah,

    إِنَّ طُولَ صَلاَةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ فَأَطِيلُوا الصَّلاَةَ وَاقْصُرُوا الْخُطْبَةَ وَإِنَّ مِنَ الْبَيَانِ سِحْرًا

    Berdasarkan riwayat dari Ammar RA, ia berkata: “Aku mendengar Rasululloh SAW bersabda: Sesungguhnya panjangnya sholat seseorang dan pendeknya khutbahnya merupakan tanda dari kefahamannya (dalam agama). Maka panjangkanlah sholat dan ringkaskanlah khutbah. Dan sesungguhnya sebagian penjelasan (ucapan) itu seperti sihir.” (HR Muslim)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *